Sabtu, 29 Desember 2012

Ka Arif Yang Hebat


Aku beranjak menuju ruang tengah, langsung menyapa kakak laki – laki aku yang baru pulang dari tugas luar kotanya, dan terlihat lahap manyantap sarapan buatan ibu, mataku langsung mengarah jam dinding dan waktu masih menunjukan pukul 05.30
 “ sepagi ini ka’arif  sarapan? Layaknya pak tani yang mu ke sawah aja Jheheheh ”
senang sekali dipagi itu karena aku bisa melihat kakak yang hampir 2 bulan tidak berjumpa karna tugas luar kotanya dan aku sangat merindukannya. Dia Ka arif adalah seorang kakak yang aku banggakan, yang berjuang menafkahi ibu nya dan menyekolahkan adik nya sampai bangku kuliah, seorang kakak yang senantiasa membimbing ibu dan adik nya ke arah yang bijaksana dan di ridhai Allah. Pagi itu kakak harus berangkat kerja lebih awal karena ada tugas mendadak dari atasannya yang mengharuskan datang pukul 7 pagi kekantor, kasian kakak padahal dia baru pulang dari luar kota, dan hanya beristirahat beberapa jam saja. Semoga Allah selalu memberikan kesehantan untukmu ka..
aku menyayangimu…..
pukul 8 aku bersiap – siap tuk berangkat kuliah, aku berpamitan pada ibu tuk berangkat kekampus
 “ bu… mugi berangkat kuliah dulu yah..oh iya mugi nanti pulangnya mungkin telat soalnya harus nyerahin dokumen ini dulu kekantor ka arif nanti sepulang kuliah “
pagi itu waktu ka arif berangkat kerja dia lupa membawa dokumen nya yang akan dipersentasikan sore ini, jadi aku yang harus mengantarkannya ke kantor ka arif. Saat itu ibu kurang begitu sehat itu jelas tampak terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat tidak lupa aku mengingatkan ibu untuk meminum obat dan perbanyak istirahat
 “ bu jangan lupa minum  obatnya ya…jangan melakukan pekerjaan rumah tunggu mugi pulang aja, mugi usahakan pulang cepat setelah dari kantor kakak”
Aku berangkat kekampus dengan penuh kekhawatiran, seandainya hari ini bukan UAS, aku lebih memilih tidak akan berangkat kekampus dulu dan lebih memilih tuk menjaga ibu dirumah L.
Esok hari nya..aku, ibu, dan ka arif pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatan ibu, saat tiba dirumah sakit dan tiba saatnya ibu diperiksa aku dan kakak penuh kecemasan, takut terjadi sesuatu dengan kesehatan ibu, dan tiba saat dokter memberitahukan hasil pemeriksaan pada kami, dokter mengatakan kalo tekanan darah ibu rendah dan magh ibu sedikit bermasalah Alhamdulillah…bukan penyakit yang terlalu berat tapi walaupun begitu ibu harus tetap dijaga kondisinya kami sebagai anak – anaknya harus setia memperhatikan ibu jantung hati kami. Setelah kami selesai memeriksakan ibu, kami segera untuk pulang. Saat di depan lobi rumah sakit, saat kami sedang menunggu taxi, terdengar suara yang memanggil ka arif dari kejauhan, sumber suara itu berasal dari dalam  lobi rumah sakit, dan pada saat itu mataku tertuju pada sesosok pria berkaca mata, berkulit putih yang memakai kemeja putih dan tergantung sebuah alat yang bernama……dilehernya, dan perkiraanku tepat dia adalah seorang dokter. Saat dia menghampiri tampak raut wajah ka arif penuh dengan keraguan untuk membalas sapaan pria itu, tak lama pria itu memberikan tangannya tuk berjabat tangan pada ka arif dan pria itu berkata,
 “ apa kabar kawan,? lupa kau sama temanmu ini “
Dan pada saat itu keraguan ka arif pun buyar saat dia menatap pria tersebut dengan lebih dekat dan ka arif berkata,
“ Ridwan…?Muhammad Ridwan ? teman lamaku semasa SMA dulu ? “
Dan merekapun saling berpelukan memecahkan kerinduan dua sahabat yang lama tak berjumpa. Pria itu adalah ka ridwan teman karib ka arif dulu semasa SMA, mereka sudah hampir 7 tahun tidak berjumpa. Tidak lupa ka arip memperkenalkan padaku dan ibu, kebetulan  ka ridwan adalah dokter dirumah sakit itu. Ka arif tampak senang bertemu dengan ka ridwan. Tak lupa ka ridwan menawarkan agar ka arif kapan – kapan berkunjung kerumah. Dan tak lama kemudia taxi yang kami pesan tiba dan kami berpamitan pada ka ridwan tidak lupa pula mereka saling bertukar no handphone.
Saat malam tiba aku dan kakak berbincang di ruang tengah, kakak yang sedang sibuk dengan laptopnya bertanya tentang bagaimana dengan kuliahku dan skripsiku, dalam perbincangan itu terselip pertanyaan akan satu hal padaku yaitu tentang jodoh.
 “gie kamu sudah kepikiran tentang jodoh gak ?”
Dan denagn cepat aku menjawab
“ sedikit,, emang kenapa kak?”
aku tersenyum menanggapi pertanyaan ka arif itu. Dan ka arif kembali bertanya
“ kok sedikit sih ?? gak jelas deh..okelah kalo belum kepikiran..tapi jangan sampai dilupakan ya,,!!”
 Mungkin saat itu ka arif berpikir bahwa dia adalah seorang kakak pengganti ayah dan dia mempunyai tanggung jawab atas laki – laki yang akan meminangku kelak, ini adalah hal yang wajar yang dipertanyakan dan dikhawatirkan seseorang yang akan menjadi wali pernikahanku nanti. Ditengah pembicaraan ini ibu keluar dari kamar yang tak kami sadar ibu telah mendengarkan pembicaraan kami sejak tadi di ruang tengah dan saat itu ibu mengutarakan pendapatnya .
“ kalo menurut ibu,,tidak ada salahnya, mulai untuk membuka hati, tapi jangan sampai kamu membuka hati untuk laki – laki yang tidak tepat buatmu gie…yang tentunya laki – laki yang sesuai idaman kamu yang tentunya sesuai syariat agama kita”
Setelah mendengar pendapat yang diutarakan ibu aku mamberikan penawaran pada kakak dan ibuku,
“ jika suatu saat ada seorang laki – laki yang menemui kakak dan ibu lalu dia berniat untuk serius pada mugi, dan apabila laki – laki itu memenuhi Syarat sesuai kriteria mugi dan syariat agama kita, insyaalloh mugi siap, dan tentunya hal ini berlaku pada saat mugi sudah lulus kuliah “
Dan pada saat itu ka arif mengerti dan mengatakan
 “ Alhamdulillah..akhirnya adikku ini sudah mempunyai keputusan akan hal ini semoga skripsinya lancar dan lulus dengan nilai sempurna J
Dan ibu hanya tersenyum mendengar pernyataan ka arif. Suasana malam saat itu begitu hangat dan kami tenggelam didalam kehangatannya.
Hari ini aku akan  pergi kerumah teman kampusku windia yang baru selesai melahirkan, aku akan berangkat dengan teman – teman yang lainnya. Saat diperjalanan aku mendapatkan telephone dari salah satu teman kampusku, yang memberitahu kalo aku langsung datang kerumah sakit saja, karena windia ternyata  masih dirumah sakit selesai melahirkan kemarin. Ya sudah aku memutuskan untuk langsung keruma sakit saja. Rumah sakit dimana windia melahirkan ternyata rumah sakit yang sama saat aku memeriksakan ibu kerumah sakit.
Saat tiba aku diruang rawatnya windia, sudah terlihat teman – teman ku yang datang, segera aku menyapa mereka semua. Aku melihat windia terlihat begitu bahagia karena ini adalah persalinan pertamanya setelah 2 tahun menunggu kehamilannya, akupun ikut larut dalam kebahagiaannya. Windia melahirkan bayi laki – laki yang sangat manis.
“Alhamdulillah ya…bayi dan ibunya sehat, rencana pulangnya kapan windia?”
“ insyaalloh sore ini gie..karena dokternya ingin memastikan kalo bayi dan ibunya benar – benar sehat pasca melahirkan, kebetulan dokter yang membantu proses melahirkan adalah sepupuku, dia sebentar lagi kesini jadi dia sangat protect sekali ”
Aku permisi untuk pergi ke toilet umum rumah sakit . Saat dikoridor menuju toilet dari ujung koridor yang berlawanan aku melihat ka ridwan teman ka arif yang waktu itu bertemu dirumah sakit ini juga, terlihat dia sedang berjalan menuju arahku, aku merasa sangat senang bisa bertemu dengan ka ridwan lagi dirumah sakit ini, berharap ka ridwan menyapaku, saat kami mulai berpapasan dia hanya tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya
“ kenapa dia hanya tersenyum padaku apa dia lupa aku adalah adiknya ka arif sahabat dia, yang beberapa hari yang lalu kita berkenalan?, dan kenapa aku berharap ka ridwan untuk menyapaku?ada apa sih aku ini,,Mugi kamu itu wanita biasa” aja, sedangkan dia adalah seorang dokter yang sudah matang dan berkarir bagus, mungkin dia sudah mempunyai tunangan, bahkan istri …Astagfirullah”
Kembali aku keruangan windia aku memutuskan untuk berpamitan pulang windia bertanya kepadaku kenapa aku cepat – cepat pulang, kebetulan hari itu siangnya aku harus sudah tiba dirumah dosen pembimbing aku untuk bimbingan skripsi. Akupun berpamitan pada semuanya.
Aku bergegas mencari taxi agar tidak telat datang untuk kerumah dosen karena dosen aku yang satu ini adalah dosen yang sangat menghargai sekali waktu, apalagi dengan waktu yang dijanjikan. Dan Alhamdulillah aku tidak telat datang, malah aku datang lebih awal 5 menit dari yang dijanjikan. Saat bimbingan aku mendapat sedikit kendala dari dosen karena skripsi aku yang setiap pertemuan harus selalu direpisi pada bab - bab yang sama, aku berdoa semoga skripsiku ini cepat rampung dan layak untuk  disidangkan.
Malam harinya setelah aku selesai bertadarus bersama ibu aku lihat kea rah jam menunjukan pukul 20.30,
“ kenapa ka arif belum pulang ya bu??  Memang ka arif pergi kemana”
“kakakmu pergi kerumah temannya..setelah mendapatkan telepon dia langsung bersiap – siap pergi katany mau ke rumahnya Ridwan yang waktu itu”
Saat itu aku menceritakan pada ibu saat aku dirumah sakit tadi, dan aku menceritakan kalo aku bertemu dengan ka ridwan dan dia seperti tidak mengenal aku .
“ mungkin dia lupa kali, soalnya kita kan bertemunya hanya sebentar apalagi waktu bertemu ka ridwan itu hanya terfokus pada kakakmu”
Aku sedikit mulai lega saat mendengar tanggapan ibu akan hal ini.
Tak lama terdengar ucapan salam,
“ Assalamualikum..”
Ka arif akhirnya pulang
“Wa’alaikumsalam..kenapa pulang larut ka"
Ka arip menjawab pertenyaanku,
“tadi tuh kakak pergi kerumah ridwan kami ya..hanya berbincang – bincang saja melepas rindu sampai lupa waktu J
“taka pa lupa waktu asal jangat kelewatan apalagi lupa waktu sholat rif”
“ya enggak donk bu…. Kalo waktu sholat arif enggak akan pernah lupa J
Dalam hati aku bergumam tentang apa yang mereka bicarakan, apakah ka ridwan bilang tadi tuh ketemu aku dirumah sakit tapi dia tidak menyapaku dengan alasan lupa lagi dengan sosok aku dan menitip salam maaf pada ka arip kalo tadi dia tidak yakin kalo yang berpapasan dengan dia itu adalah adik sahabatnya? Aduh…mugi kamu mulai lagi berpikir yang tidak – tidak , mana mungkin ka ridwan membicarakan hal yang tak penting seperti itu L
Ka Arif menyampaikan salam dari ka ridwan untuk ibu dan aku insyaalloh dalam waktu dekat ka ridwan mau silaturahmi kesini. Ibu sangat welcome menanggapinya, sampai – sampai ibu bertanya makanan kesukaan ka ridwan itu apa pada ka arif. Dan pendapat aku sih tak usah berlebihan seperti itu hehehe J

 Bersambung...tunggu minggu depan ya... J

5 komentar:

  1. Kereeennn...!
    ditunggu sambungannya... :)

    BalasHapus
  2. nice dear :)>>> Lanjutkan :)
    *maap itu ijin repisi ya tulisan repisinya ganti pake ep :D

    BalasHapus
  3. hallo ibu ini nadia kelas XI 2 ..
    cerpen nya keren bu :)

    BalasHapus
  4. postingannya bgus bu.. :)
    kunjungi blog saya jg ya bu, ditunggu komentarnya jg.. :D

    http://riyadifahri.blogspot.com/2013/09/teknologi-inovasi-terbaru-oppo-n1.html

    Salam Fahri Riyadi kelas X-1

    BalasHapus