Aku beranjak menuju ruang tengah, langsung
menyapa kakak laki – laki aku yang baru pulang dari tugas luar kotanya, dan
terlihat lahap manyantap sarapan buatan ibu, mataku langsung mengarah jam
dinding dan waktu masih menunjukan pukul 05.30
“ sepagi
ini ka’arif sarapan? Layaknya pak tani
yang mu ke sawah aja Jheheheh ”
senang sekali dipagi itu karena aku bisa melihat
kakak yang hampir 2 bulan tidak berjumpa karna tugas luar kotanya dan aku
sangat merindukannya. Dia Ka arif adalah seorang kakak yang aku banggakan, yang
berjuang menafkahi ibu nya dan menyekolahkan adik nya sampai bangku kuliah,
seorang kakak yang senantiasa membimbing ibu dan adik nya ke arah yang bijaksana
dan di ridhai Allah. Pagi itu kakak harus berangkat kerja lebih awal karena ada
tugas mendadak dari atasannya yang mengharuskan datang pukul 7 pagi kekantor,
kasian kakak padahal dia baru pulang dari luar kota, dan hanya beristirahat
beberapa jam saja. Semoga Allah selalu memberikan kesehantan untukmu ka..
aku menyayangimu…..
pukul 8 aku bersiap – siap tuk berangkat kuliah,
aku berpamitan pada ibu tuk berangkat kekampus
“ bu… mugi
berangkat kuliah dulu yah..oh iya mugi nanti pulangnya mungkin telat soalnya
harus nyerahin dokumen ini dulu kekantor ka arif nanti sepulang kuliah “
pagi itu waktu ka arif berangkat kerja dia lupa
membawa dokumen nya yang akan dipersentasikan sore ini, jadi aku yang harus
mengantarkannya ke kantor ka arif. Saat itu ibu kurang begitu sehat itu jelas
tampak terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat tidak lupa aku mengingatkan
ibu untuk meminum obat dan perbanyak istirahat
“ bu
jangan lupa minum obatnya ya…jangan
melakukan pekerjaan rumah tunggu mugi pulang aja, mugi usahakan pulang cepat
setelah dari kantor kakak”
Aku berangkat kekampus dengan penuh kekhawatiran,
seandainya hari ini bukan UAS, aku lebih memilih tidak akan berangkat kekampus dulu
dan lebih memilih tuk menjaga ibu dirumah L.
Esok hari nya..aku, ibu, dan ka arif pergi ke
dokter untuk memeriksa kesehatan ibu, saat tiba dirumah sakit dan tiba saatnya
ibu diperiksa aku dan kakak penuh kecemasan, takut terjadi sesuatu dengan
kesehatan ibu, dan tiba saat dokter memberitahukan hasil pemeriksaan pada kami,
dokter mengatakan kalo tekanan darah ibu rendah dan magh ibu sedikit bermasalah
Alhamdulillah…bukan penyakit yang terlalu berat tapi walaupun begitu ibu harus
tetap dijaga kondisinya kami sebagai anak – anaknya harus setia memperhatikan
ibu jantung hati kami. Setelah kami selesai memeriksakan ibu, kami segera untuk
pulang. Saat di depan lobi rumah sakit, saat kami sedang menunggu taxi, terdengar
suara yang memanggil ka arif dari kejauhan, sumber suara itu berasal dari dalam
lobi rumah sakit, dan pada saat itu
mataku tertuju pada sesosok pria berkaca mata, berkulit putih yang memakai
kemeja putih dan tergantung sebuah alat yang bernama……dilehernya, dan
perkiraanku tepat dia adalah seorang dokter. Saat dia menghampiri tampak raut
wajah ka arif penuh dengan keraguan untuk membalas sapaan pria itu, tak lama
pria itu memberikan tangannya tuk berjabat tangan pada ka arif dan pria itu berkata,
“ apa
kabar kawan,? lupa kau sama temanmu ini “
Dan pada saat itu keraguan ka arif pun buyar saat
dia menatap pria tersebut dengan lebih dekat dan ka arif berkata,
“ Ridwan…?Muhammad Ridwan ? teman lamaku semasa
SMA dulu ? “
Dan merekapun saling berpelukan memecahkan
kerinduan dua sahabat yang lama tak berjumpa. Pria itu adalah ka ridwan teman
karib ka arif dulu semasa SMA, mereka sudah hampir 7 tahun tidak berjumpa.
Tidak lupa ka arip memperkenalkan padaku dan ibu, kebetulan ka ridwan adalah dokter dirumah sakit itu. Ka
arif tampak senang bertemu dengan ka ridwan. Tak lupa ka ridwan menawarkan agar
ka arif kapan – kapan berkunjung kerumah. Dan tak lama kemudia taxi yang kami
pesan tiba dan kami berpamitan pada ka ridwan tidak lupa pula mereka saling
bertukar no handphone.
Saat malam tiba aku dan kakak berbincang di ruang
tengah, kakak yang sedang sibuk dengan laptopnya bertanya tentang bagaimana
dengan kuliahku dan skripsiku, dalam perbincangan itu terselip pertanyaan akan
satu hal padaku yaitu tentang jodoh.
“gie kamu
sudah kepikiran tentang jodoh gak ?”
Dan denagn cepat aku menjawab
“ sedikit,, emang kenapa kak?”
aku tersenyum menanggapi pertanyaan ka arif itu.
Dan ka arif kembali bertanya
“ kok sedikit sih ?? gak jelas deh..okelah kalo
belum kepikiran..tapi jangan sampai dilupakan ya,,!!”
Mungkin
saat itu ka arif berpikir bahwa dia adalah seorang kakak pengganti ayah dan dia
mempunyai tanggung jawab atas laki – laki yang akan meminangku kelak, ini
adalah hal yang wajar yang dipertanyakan dan dikhawatirkan seseorang yang akan
menjadi wali pernikahanku nanti. Ditengah pembicaraan ini ibu keluar dari kamar
yang tak kami sadar ibu telah mendengarkan pembicaraan kami sejak tadi di ruang
tengah dan saat itu ibu mengutarakan pendapatnya .
“ kalo menurut ibu,,tidak ada salahnya, mulai
untuk membuka hati, tapi jangan sampai kamu membuka hati untuk laki – laki yang
tidak tepat buatmu gie…yang tentunya laki – laki yang sesuai idaman kamu yang
tentunya sesuai syariat agama kita”
Setelah mendengar pendapat yang diutarakan ibu
aku mamberikan penawaran pada kakak dan ibuku,
“ jika suatu saat ada seorang laki – laki yang
menemui kakak dan ibu lalu dia berniat untuk serius pada mugi, dan apabila laki
– laki itu memenuhi Syarat sesuai kriteria mugi dan syariat agama kita,
insyaalloh mugi siap, dan tentunya hal ini berlaku pada saat mugi sudah lulus
kuliah “
Dan pada saat itu ka arif mengerti dan mengatakan
“
Alhamdulillah..akhirnya adikku ini sudah mempunyai keputusan akan hal ini
semoga skripsinya lancar dan lulus dengan nilai sempurna J “
Dan ibu hanya tersenyum mendengar pernyataan ka
arif. Suasana malam saat itu begitu hangat dan kami tenggelam didalam
kehangatannya.
Hari ini aku akan pergi kerumah teman kampusku windia yang baru
selesai melahirkan, aku akan berangkat dengan teman – teman yang lainnya. Saat
diperjalanan aku mendapatkan telephone dari salah satu teman kampusku, yang
memberitahu kalo aku langsung datang kerumah sakit saja, karena windia
ternyata masih dirumah sakit selesai
melahirkan kemarin. Ya sudah aku memutuskan untuk langsung keruma sakit saja.
Rumah sakit dimana windia melahirkan ternyata rumah sakit yang sama saat aku
memeriksakan ibu kerumah sakit.
Saat tiba aku diruang rawatnya windia, sudah
terlihat teman – teman ku yang datang, segera aku menyapa mereka semua. Aku
melihat windia terlihat begitu bahagia karena ini adalah persalinan pertamanya
setelah 2 tahun menunggu kehamilannya, akupun ikut larut dalam kebahagiaannya.
Windia melahirkan bayi laki – laki yang sangat manis.
“Alhamdulillah ya…bayi dan ibunya sehat, rencana
pulangnya kapan windia?”
“ insyaalloh sore ini gie..karena dokternya ingin
memastikan kalo bayi dan ibunya benar – benar sehat pasca melahirkan, kebetulan
dokter yang membantu proses melahirkan adalah sepupuku, dia sebentar lagi
kesini jadi dia sangat protect sekali ”
Aku permisi untuk pergi ke toilet umum rumah
sakit . Saat dikoridor menuju toilet dari ujung koridor yang berlawanan aku
melihat ka ridwan teman ka arif yang waktu itu bertemu dirumah sakit ini juga,
terlihat dia sedang berjalan menuju arahku, aku merasa sangat senang bisa
bertemu dengan ka ridwan lagi dirumah sakit ini, berharap ka ridwan menyapaku,
saat kami mulai berpapasan dia hanya tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya
“ kenapa dia hanya tersenyum padaku apa dia lupa
aku adalah adiknya ka arif sahabat dia, yang beberapa hari yang lalu kita
berkenalan?, dan kenapa aku berharap ka ridwan untuk menyapaku?ada apa sih aku
ini,,Mugi kamu itu wanita biasa” aja, sedangkan dia adalah seorang dokter yang
sudah matang dan berkarir bagus, mungkin dia sudah mempunyai tunangan, bahkan
istri …Astagfirullah”
Kembali aku keruangan windia aku memutuskan untuk
berpamitan pulang windia bertanya kepadaku kenapa aku cepat – cepat pulang,
kebetulan hari itu siangnya aku harus sudah tiba dirumah dosen pembimbing aku
untuk bimbingan skripsi. Akupun berpamitan pada semuanya.
Aku bergegas mencari taxi agar tidak telat datang
untuk kerumah dosen karena dosen aku yang satu ini adalah dosen yang sangat
menghargai sekali waktu, apalagi dengan waktu yang dijanjikan. Dan Alhamdulillah
aku tidak telat datang, malah aku datang lebih awal 5 menit dari yang
dijanjikan. Saat bimbingan aku mendapat sedikit kendala dari dosen karena
skripsi aku yang setiap pertemuan harus selalu direpisi pada bab - bab yang
sama, aku berdoa semoga skripsiku ini cepat rampung dan layak untuk disidangkan.
Malam harinya setelah aku selesai bertadarus
bersama ibu aku lihat kea rah jam menunjukan pukul 20.30,
“ kenapa ka arif belum pulang ya bu?? Memang ka arif pergi kemana”
“kakakmu pergi kerumah temannya..setelah
mendapatkan telepon dia langsung bersiap – siap pergi katany mau ke rumahnya
Ridwan yang waktu itu”
Saat itu aku menceritakan pada ibu saat aku
dirumah sakit tadi, dan aku menceritakan kalo aku bertemu dengan ka ridwan dan
dia seperti tidak mengenal aku .
“ mungkin dia lupa kali, soalnya kita kan
bertemunya hanya sebentar apalagi waktu bertemu ka ridwan itu hanya terfokus
pada kakakmu”
Aku sedikit mulai lega saat mendengar tanggapan
ibu akan hal ini.
Tak lama terdengar ucapan salam,
“ Assalamualikum..”
Ka arif akhirnya pulang
“Wa’alaikumsalam..kenapa pulang larut ka"
Ka arip menjawab pertenyaanku,
“tadi tuh kakak pergi kerumah ridwan kami
ya..hanya berbincang – bincang saja melepas rindu sampai lupa waktu J”
“taka pa lupa waktu asal jangat kelewatan apalagi
lupa waktu sholat rif”
“ya enggak donk bu…. Kalo waktu sholat arif
enggak akan pernah lupa J”
Dalam hati aku bergumam tentang apa yang mereka
bicarakan, apakah ka ridwan bilang tadi tuh ketemu aku dirumah sakit tapi dia
tidak menyapaku dengan alasan lupa lagi dengan sosok aku dan menitip salam maaf
pada ka arip kalo tadi dia tidak yakin kalo yang berpapasan dengan dia itu
adalah adik sahabatnya? Aduh…mugi kamu mulai lagi berpikir yang tidak – tidak ,
mana mungkin ka ridwan membicarakan hal yang tak penting seperti itu L
Ka Arif menyampaikan salam dari ka ridwan untuk
ibu dan aku insyaalloh dalam waktu dekat ka ridwan mau silaturahmi kesini. Ibu
sangat welcome menanggapinya, sampai – sampai ibu bertanya makanan kesukaan ka
ridwan itu apa pada ka arif. Dan pendapat aku sih tak usah berlebihan seperti
itu hehehe J
Bersambung...tunggu minggu depan ya... J